Cerita Motivasi : Ayam Sapi Babi

Pelajaran dari dunia binatang
Alkisah sebuah cerita dari dunia kawanan ternak milik suami-istri petani di desa Cutaiceraiberai. Pak & Bu Tani ini memiliki beberapa ekor ternak terdiri dari sejumlah ayam, sekawanan babi, dan sepasang sapi.
Di desa Ceraiberai itu, para ternak bisa saling mengerti bahasa mereka dan saling berkomunikasi.

Pada suatu hari, datanglah kawanan ayam ke kandang babi:

”Babi, babi, ohh, tolonglah kami. Selamatkan kami, biarlah kami bersembunyi di kandang kalian”

Jawab babi: ”Hey, apa yang terjadi? Kenapa kalian ribut-ribut di kandang kami? Tidak tahukan bahwa sekarang adalah jam tidur kami?”

Sahut Ayam: ”Tolonglah, kami baru saja mendengar berita bahwa di luar sana ada kawanan musang yang menyerang dan memakan ayam-ayam. Ayam-ayam di rumah tetangga sudah habis, malam ini pasti giliran kami. Karena itu, tolonglah kami, biarkanlah kami bersembunyi di kandang kalian. Lindungilah kami.”

”Ah, kalian hanya mengganggu tidur siang kami saja! Apa urusan kami kalau kalian dimangsa musang? Siapa suruh kalian jadi ayam? Kenapa tidak jadi babi saja, sehingga tidak diserang musang? Haha…” Jawab babi-babi sambil tertawa senang, oleh kenyataan bahwa mereka bukan ayam, melainkan babi.

Ayam pun masih mencoba menghiba-hiba, tetapi hanya sikap tak acuh dan bahkan ejekan yang mereka dapat.

Tidak ada harapan di kawanan babi. Para ayam masih belum putus asa. “Masih ada sapi, mari kita pergi ke kandang sapi” kata ketua ayam. Mereka pun pergi ke kandang sapi.

Di kandang sapi mereka membawa cerita yang sama dan harapan yang sama: agar kawanan sapi tergerak hatinya untuk memberikan pertolongan kepada kawanan ayam. Kira-kira apa yang kawanan ayam dapatkan? Tepat sekali, tawa yang lebih keras dari kawanan sapi:

” Hey ayam, tahu diri donk!
Memang itulah nasib kalian sebagai ayam, dimangsa musang.
Kami, kawanan sapi dan kawanan babi yang selama ini hidup bersama kalian aja yang sudah terlalu baik tidak memangsa kalian….
Sayang, kebaikan kami membuat kalian jadi lupa diri!
Siapa suruh kalian jadi ayam?? Makanya, kalau ada reinkarnasi (mati dan lahir kembali) nanti, kalian minta aja agar jadi sapi ya haha….supaya tidak dimangsa musang haha”

Begitulah kawanan sapi menjawab sambil tertawa terbahak-bahak, dan mensyukuri keberadaan mereka sebagai sapi.

”Untung kita ini sapi dan bukan ayam” Kata mereka dalam hati, sama sekali tidak tergerak untuk mencari jalan keluar bagi kawanan ayam.

”Tamatlah riwayat kita malam ini saudara-saudara” kata ketua ayam kepada anggotanya dengan kepala menunduk dan suara yang hampir tidak terdengar. Mereka pun berjalan pulang dengan semua kepala menunduk. Loyo.

Senja pun datang, kawanan ayam dag-dig-dug menanti saat ’ekskusi’ oleh kawanan musang.

Kawanan babi siap-siap tidur lelap kekenyangan: ”ah itu kan bukan urusan kita” begitu kata mereka sebelum kemudian tertidur lelap.

Kawanan sapi, sebaliknya, mengintip dari kandang mereka: ”Come on, brur, kita akan menjadi saksi sejarah malam ini. Kita akan melihat kawanan ayam dicerai-beraikan oleh kawanan musang…”

Malam hari pun akhirnya datang. Kawanan ayam pun memasang strategi pertahanan terakhir mereka yaitu: berkotek sekeras mungkin dan membuat keributan. Semua ayam harus serempak berkotek dan membuat keributan lain. Tujuannya? Semua penghuni rumah terganggu tidurnya. Harapannya? Kawanan babi akan ”grok-grok” marah terganggu tidurnya, kawanan sapi akan melenguh marah. Kemarahan kawanan babi dan sapi diharapkan cukup menakut-nakuti kawanan musang. Apalagi kalau tuan mereka bangun dan melihat ke kandang, dan mengusir kawanan musang. Selamatlah mereka.

Lumayan juga kan strategi ayam? Ketika kita dalam kondisi terdesak, kecerdasan kita dipaksa muncul. Ada baiknya juga ya situasi keterdesakan? Tetapi jangan lupa, ada juga loh yang sudah terdesak masih berkelahi sendiri di antara mereka…

Benar, ketika kawanan musang datang mengendap ke kandang ayam, kawanan ayam pun membuat berbagai keributan. Tetapi dasar babi, mereka tetap tidur pulas. Bagaimana dengan kawanan sapi? Karena mereka sudah sejak awal memang siap-siap tidak tidur, mereka hanya diam-diam mengintip, menunggu ’tahap berikutnya’.

Pak & Bu Tani itulah yang terganggu. Bu Tani duluan terbangun dan melompat dari tempat tidur, disusul suaminya Pak Tani. Mereka berlari ke kandang ayam dalam gelap. Ketika berlari ke kandang ayam itu, tanpa sengaja Bu Tani menginjak ular, dan ular pun bereaksi balik, mematuk kaki Bu Tani.

Musang berlari. Ayam selamat.
Babi, tetap tidak perduli.
Sapi, kecewa karena gagal menjadi ’saksi sejarah’.
Sementara Pak Tani pun sedih bukan kepalang, karena Bu Tani sakit parah karena patukan ular berbisa.

Seminggu berlalu, Bu Tani belum sembuh. Pak Tani makin sedih, dan kawanan ternak kali ini juga sedih, karena tidak ada yang memberi makan.

Saran Tabib kesohor: Karena sakit Bu Tani makan parah, dia perlu diberi makan khusus yaitu sapi yang dimasak dengan rempah-rampah khusus.

Kawanan binatang yang paling besar di antara ternak yang ada itu, sapi, pun dipotonglah satu – persatu.

Sampai sapi habis dipotong, Bu Tani bukan sembuh malah makin parah. Akhirnya dia tak tertolong lagi.

Untuk keperluan upacara penguburan, maka semua babi milik mereka pun harus dipotong.

Sementara ayam-ayam dipertahankan hidup.

”Kita butuh telur mereka untuk ditukar kebutuhan sehari-hari”.

Bersama mengubah ’laknat’ menjadi berkat!

Cerita di atas dari seorang teman dari Jerman, dalam sebuah pertemuan beberapa tahun silam. Cerita itu terus melekat dalam benak saya, dan saya suka ceritakan ulang, seperti dalam tulisan ini.

Begitu mudahnya kita dikotak-kotakkan atau juga mengkotak-kotakkan diri, menurut ras, klan atau marga/mado, suku, agama, golongan sosial-ekonomi, atau juga golongan politik. Lalu dengan cepat melihat bahwa persoalan mereka yang berbeda golongan dengan kita itu bukan persoalan kita. Sebagian kita bersikap cuek, acuh tak acuh, seeprti sikap babi atas persoalan ayam. Sebagian malah dengan sengaja menyimak dengan seksama sambil mensyukuri bahwa itu tidak terjadi pada kita. Sebagian lagi bukan hanya mensyukuri bahwa kita tidak termasuk dalam golongan yang sedang kesulitan tsb, melainkan juga menyalah-nyalahkan mereka. Siapa suruh jadi ayam? Kenapa tidak jadi babi atau sapi? Siapa suruh jadi orang miskin? Siapa suruh jadi orang bodoh? Kenapa tidak jadi orang kaya? Urus saja persoalanmu sendiri, mengganggu kenyamanan hidup SAYA saja!

Kita lupa bahwa kita adalah mahluk sosial. Artinya kita tidak bisa hidup tanpa kehadiran orang lain; bahkan tidak bisa hidup tanpa kehadiran ciptaan yang lain. Ada ketergantungan yang bersifat langsung, ada juga yang tidak langsung.

Sapi mengira bahwa dia adalah binatang yang paling beruntung di antara kawanan ternak yang dipelihara pasangan petani di atas. Dalam cerita, justru dialah yang pertama kali harus dipotong untuk ramuan sup rempah-rempah Bu Tani.

Babi mengira dia kawanan ternak yang paling aman, karena musang tidak pernah tertarik pada babi. Tetapi justru dia kawanan yang dipotong serentak untuk upacara penguburan.
Artinya, musang memang tidak akan jadi persoalan buat babi atau pun sapi. Tetapi akan ada masanya dimana babi maupun sapi akan punya persoalan mereka sendiri.

Pada akhirnya ayam justru yang tinggal selamat.

Dalam kisah di dunia manusia kita sering mengira bahwa persoalan kemalangan adalah urusan mereka yang sedang mengalami kemalangan; bencana adalah persoalan mereka yang menjadi korban bencana itu sendiri; persoalan kemiskinan adalah persoalan orang miskin itu sendiri. Peduli setan! Saya tidak punya kait-mengait dengan mereka.

Lebih parah lagi sudah sama-sama mengalami petaka bencana atau sama-sama miskin tetapi hidup saling tidak peduli atau bahkan saling mencelakai.

Apakah cerita akan berakhir gembira seandainya babi dan sapi bersikap lain? Kita tidak tahu. Tetapi saya yakin, pasti akan berakhir berbeda dengan suasana yang jauh lebih baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: